Kenapa Harus Berpasangan. Jika Sendiri Saja Punya Peran.

Dialog harian yang tak ada habisnya. Menyempil tema yang memang menjadi takdir roda kehidupan. Tercetus tanya ketika mengobrol dengan mereka.

“Kenapa sih harus berdua, kalo sendiri aja tuh kita bisa?”

Bisa ditebak, mereka umumnya bereaksi:

“gila lu ya”

“emang lu gak mau bahagiain ortu”

“emang lu mau cari duit sendiri terus”

***

Gini loh, kayanya gak cuma saya yang berpikir dan penasaran kaya gini deh. Di zaman instan kaya sekarang dan sifat individualisme yang semakin dijiwai manusia. Rasanya, selentingan pikiran “kenapa harus berdua” 30% jadi topik obrolan.

***

Ya gimana ya sampai sekarang tuh belum ada jawaban yang keren aja sih untuk hal ini. Mereka tuh pasti jawabnya:
Nikah itu kan ibadah

Ini paling sering banget pokonya. Gini ya, kadang Aku teh suka geregetan kalo lagi ajak diskusi terus dijawab pakai agama. Itu mah udah pasti kelar. Aku teh tau banget, nikah itu memang sunah rasul. Cuma kan bukan itu konteks yang Aku cari, tapi pertanyaan kenapanya? 😂

Kan enak kalau berdua bisa berbagi beban

Oke. Berbagi beban? Rasanya ketika sendiripun kita bisa kok selesain masalah kita sendiri. Toh, kita pasti lebih tau kan gimana caranya bahagiain sendiri. Entah dengerin musik, belanja sesuatu, dll.

Kan enak bisa dianter jemput 

Anter jemput ya? Hmm rasanya transportasi online sudah semakin marak. Malahan gak akan menimbulkan ambek ambekan jika nantinya si pasangan “jemput telat”. Gak mungkin kan kalian berantem sama abang ojek online? 😂

Perlu lah, kan bisa dapat uang bulanan

Memang sih, ini mungkin jawaban yang paling realistis. Manusia gak akan selamanya bisa sendiri. Ya misalnya gak akan selamanya bisa kuat cari uang sendiri.

Cuma, sayangnya banyak juga kisah di sekeliling bahwa pasangan justru membebani keuangan (?) Jadi, ku kembali penasaran “kenapa harus berdua” 😂

***

Paradigma orangtua terkait nikah muda dan perawan tua memang sangat berkesinambungan. Rasanya pusing berkeliaran. Melihat umur sudah di angka yang rawan.

Tapi, rasanya tidak perlu lah menjajakan. Target sih target, tapi kita punya hak untuk konsep kepribadian. Bukan harus pasrah siapa saja yang datang duluan. Realistis itu sangat perlu. Tapi bukan berarti harus terburu buru.

Yang pasti jikalau berdua itu perlu, Saya merasa pasangan ada untuk saling menghargai dan saksi resmi jika kita mati. Terpenting adalah pelengkap dokumen masa depan si buah hati

***

Menulis bisa jadi karena penasaran

Menulis bisa juga karena ke soktauan

Menulis bisa juga untuk menggiring pikiran

Menulis bisa juga untuk menikmati hujan

***

Nikmatilah dulu hidupmu. Jika merasa itu belum perlu. Silakan ukir cerita sesuai seleramu. Jika kau sudah siap, jangan lupa undang Aku 😂

-Re-

Advertisements

Menikah. Penting atau Tidak

Dulu waktu kuliah belajar tentang macam macam paragraf. Ada tuh salah satunya paragraf argumentasi. Menurut wikipedia:

Argumentasi adalah salah satu jenis pengembangan paragraf dalam penulisan yang ditulis dengan tujuan untuk meyakinkan atau membujuk[butuh rujukan] pembaca. Dalam penulisan argumentasi isi dapat berupa penjelasan, pembuktian, alasan, maupun ulasan obyektif dimana disertakan contoh, analogi, dan sebab akibat.

Tujuannya adalah agar pembaca yakin bahwa ide, gagasan, atau pendapat tersebut adalah benar dan terbukti.

📚📚📚

Oke saatnya paragraf argumentasi ini kita modifikasi (tanpa berniat merusak kaidah Bahasa Indonesia). Intinya penulis ingin memengaruhi pembaca tapi si penulis ini gak paham nulis paragraf argumentasi yang baik dan benar itu kaya gimana. Lalu kamu ngapain aja kuliah sastra 4 tahun bruh? 😑😑

📚📚📚

Jadi gini, menikah itu penting atau tidak? Menurut abdi sih tergantung keadaan, jadi penting atau gak pentingnya itu sendiri. Bisa aja tuh bulan Januari kita anggap gak penting, tapi Februari bisa jadi penting 😂😂

Kalau sampai saat ini masih merasa menikah itu gak (terlalu) penting sih. Contohnya gini, manusia pada umumnya sudah biasa beraktivitas sendiri bukan? Justru kehadiran pasangan itu malah membuat kita “ketergantungan”.

💕Biasa naik kendaraan sendiri, punya pasangan berharap disupirin.

💕Biasa makan sendiri, punya pasangan maunya ditemenin makan.

💕Biasa gak ada yang tanya kabar, punya pasangan berharap ada yang tanya kabar.

💕Biasa sakit langsung berobat, punya pasangan harus kode biar dijenguk atau diucapin gws.

Kadang ada hal-hal yang seharusnya simple jadi muter muter. Tapi menikah itu jadi penting salah satunya jika kalian udah ditinggal teman menikah. Dalam artian, misalnya kalian temenan 5 orang. Terus 3 diantaranya udah menikah, tentu saja kekhawatiran itu pasti ada 😂😂

📚📚📚

Pernah juga sih baca pendapat bahwa

Menikah itu justru menimbulkan masalah baru 😂

Gak tau kenapa agak agak setuju juga sih ya. Gimana gak, referensi film, sinetron, kehidupan nyata mendukung banget pendapat itu sih. Ilustrasi yang sering banget menimbulkan masalah sih kurang lebih masalah ini nih:

💕Penentuan mahar, seserahan, tanggal pernikahan, undangan, dekorasi dsb.

💕Perselisihan tinggal sendiri atau dengan mertua

💕Perselisihan lahiran normal atau caesar

💕Perdebatan pekerjaan atau status sosial pasangan

Ya kurang lebih kaya gitu. Jadi, intinya menikah itu belum penting kalau sekarang tapi belum tau kalau sore hari (adaptasi dari kutipan novel Dilan 😂)

Tapi, kalau boleh bersaran. Tetaplah memikirkan menikah itu penting tetapi resepsi tidak penting, karena ada keluarga dan teman yang selalu tulus mendoakan kebahagiaanmu mengenai jodoh.

Sekali lagi, maaf jika modifikasi paragraf argumen ini tidak sesuai kaidah kebahasaan. Sekali lagi juga, tulisan ini adalah pandangan absurd si penulis yang mungkin tingkat kesadarannya masih diragukan.

Selamat pagi menjelang siang

Re 1701

Lima.

Hai lima. Sering dianggap genap padahal ganjil. Sering serius tapi dianggap jail. Lucu ya, makanya jangan usil.

🌼🌼🌼

Hai lima. Terima kasih selalu menggenapkan. Hadirmu memperlengkap bilangan. Bagai bangun datar, kau lingkaran. Sungguh menyenangkan.

🌼🌼🌼

Lima, dia kemana ya? Kamu sih terlalu sering ngelaba. Makanya saling jaga. Kalau sudah hilang gini, mau bagaimana? Simpan rindumu itu, Nana.

🌼🌼🌼

Lima. Ternyata susah juga ya. Konsisten dalam waktu lama. Besok aku perbaiki lagi ya.

Tiga dan Empat.


Tiga dan empat. Kenapa dua? Ya, kemarin tidak sempat. Mataku cepat merapat. Akibat tuntutan lembur yang merekat.

🍃🍃🍃

Tiga dan empat. Hai, apa kabar sobat? Apakah kamu semakin hangat? Atau tambah memikat? Sesungguhnya rindu, sayang jarak kita tak dekat.

🍃🍃🍃

Tiga dan empat. Jadi kapan impian kita merekat? Kamu lebih suka tiga atau empat? Atau lebih suka berpindah tempat?

🍃🍃🍃

Tiga dan empat jika dijumlahkan tujuh. Jika dikurangkan minus satu. Jangan bosan terus berpeluh. Hidup ini memang untuk mengejar sesuatu.

🍃🍃🍃

Tiga dan empat. Tak terasa waktu semakin dekat. Apakah kamu sudah terikat? Atau masih ingin menjelajah ke lain tempat? Menarik rasanya jika nekat. Belum pernah kan rasanya paku tersangkut dalam kain brokat.

🍃🍃🍃

Berhutang karya ternyata lebih menghantui. Mengiris rindu dalam sepi. Sudahlah kau tak akan mengerti. Penulis kalau lagi belagu memang seperti ini 😂

🍃🍃🍃
Re

#30haringeblog

Dua.

Dua lebih banyak dari satu. Lebih baik? Belum tentu. Dalam sebuah lomba, juara dua podiumnya lebih rendah. Tak dapat semprotan air sehingga membuat gerah. Dilirikpun hanya seadanya. Itu juga karena mereka gagal dapat gambar juara pertama.

🍂🍂🍂

Kamu tau kisah anak kembar yang harus dipaksa dipisahkan karena organ mereka ada kelainan? Dua kadang menyakitkan. Dalam kasus ini kami diajarkan. Bagaimana orang hidup harus merelakan dan mempercaya kematian demi sebuah kebahagiaan.

🍂🍂🍂

Namun, kamu tau pertengkaran abadi adik dan kakak dua bersaudara? Ketika ibu lelah mengerem amarah. Ketika suara menggema tak terarah. Dua kadang mengajarkan. Bahwa mengalah adalah cara elegan mencipta perdamaian.

🍂🍂🍂

Dan apakah Kamu tau pergerakan cairan dalam dua lubang hidung? Tarikan simetris antara kanan dan kiri. Menimbang adil tanpa menyakiti. Meski kadang membuat sesak namun Aku sangat menunggu keluarnya dahak. Aku rindu saat bisa terbahak.

🍂🍂🍂
Lalu apakah Kamu sungguh-sungguh tau berapa gram keritingan mie instan dalam bungkus Sarimi isi dua?  Bungkus sederhana, mengeyangkan alam perut dan sekitarnya. Gulungan garpu yang lebih banyak. Dibalut kuah kaldu yang enak. Ah, dua kau memang istimewa tanpa jarak.

Re

#30haringeblog

Satu.

Satu… Aku mengenal sebagai angka. Namun satu bisa menjadi intro cerita. Cerita asa, perjuangan, bahkan cinta. Satu adalah pertama. Pantas saja semua berebut mendapatkannya.
Satu…Kali ini Aku ingin mempresentasikanmu untuk kisah keluarga. Menarik rasanya, penuh intrik bak drama. Cinta kepada keluarga tak boleh ada habisnya. Jika kau lapar, hanya kulkas rumah yang akan menyajikan papaya.

Satu dan keluarga. Bagai liontin nampak lebih indah jika ada permata. Dia sedang sakit. Tenggorokannya sedang rutin menjerit. Katanya sih, terlalu banyak menelan buah yang pait.

Ibu dan adik. Hanya mereka yang membuatku lebih baik. Ketika Aku salah membidik. Merekalah yang menyadarkanku agar lebih apik.

Usahaku membuat mereka bahagia belum sebanding. Rasanya piring ingin ku banting. Habis, mereka selalu bergeming. Perubahanku tak membuat pangling.

Satu dan diksi. Ah sudahlah, biasa menulis puisi sok sekali coba narasi. Dasar kamu tidak tau diri. Tapi tak apa latihan akan menjadi bukti. Bahwa menulis adalah cara sederhana menghibur diri.

🌼🌼🌼

Mengadaptasi program #30haribercerita. Aku akan mencoba dalam media lainnya. Semoga terus tertata. Hingga tanggal deadlinenya.

Re

#30haringeblog

Hari Tiga Huruf

Selamat pagi. Sudah lama tak menulis narasi. Rasanya jari kaku lagi. Berhentilah dengan rimamu, ini bukan puisi. 

Hae ambu, apa kabar? Baik lah ya pasti, kan kita serumah. Semakin hari kamu juga semakin montok dan sumringah.

Kata dunia hari ini adalah hari ibu. Kataku ini hari Jumat yang membelenggu. Sejak tadi pagi wa-mu seakan menjadi kode buatku. Agar aku mengucapkan “Selamat hari ibu” kepadamu. Sungguh malang nasibmu ambu. Aku bukan anak yang seromantis itu.

Katanya hari ibu itu setiap hari. Bukan hanya hari ini. Katanya juga hari ibu itu setiap hari. Dalam doa sujud sholat sehari-hari. Namun kataku hari ibu adalah bagai palung tanpa besi.

Sudah berkali-kali hari ibu diadakan. Namun prestasiku belum ada yang bisa dibanggakan. Definisi sukses ibu belum bisa kukabulkan. Materi belum berhasil aku cukupkan. Kehadiran semakin hari semakin aku kurangkan. Namun kamu masih setia bertahan. Menjaga anak yang sulit untuk diarahkan.

Aku tau mimpimu seperti ibu pada umumnya. Namun, tabahlah anakmu berakal tak seperti biasanya. Ketika materi menjadi ajang bergengsi. Ketika status pasangan menjadi penentuan harga diri. Ketika karir menjadi takaran penentu status ekonomi.

Aku tau bebanmu dihadapannya, hadapan mereka. Memiliki anak perempuan satu-satunya. Namun, ekspektasimu terlalu menyala. Sedangkan otakku kadang tak berirama. “Tak punya pikiran” otakku dilabeli mereka.

Baginya aku seolah tak memikirkan. Siapa bilang? Justru kadang aku terbeban. Namun, buat apa dikeluhkan. Toh aku bicara akan dianggap sebagai bualan.

Adat istiadat. Penentu stigma masyarakat. Mengekang manusia untuk bernikmat. Memenjara pikiran hingga ke lahat. Adat istiadat. Ada juga yang membuat nikmat. Menggabung norma dan agama semakin dekat. Menyusun manusia hingga rapi memikat.

Aku paham membuatmu bahagia. Tapi sayang persepsi kita berbeda. Aku selalu gagal membahagiakanmu sesungguhnya. Namun, aku selalu berdoa. Bolehkah aku berkelana setahun saja? Atau bolehkah aku menghabiskan uang untuk mencari ilmu lagi di kota berbeda? 😂😂

Ambu. Tetaplah menaruh harap padaku. Jangan berhenti mendoakanku. Begitupun aku mendoakanmu. Polaku mungkin aneh dimatamu. Tak memberimu cerita cinta. Tak memberimu cerita masalah kerja.Tak memberimu cerita jika gundah gulana. Bahkan tak memberimu “pundi” sebanyak anak mereka. Diamku seribu bahasa akan lebih membuatmu bahagia. Daripada aku harus memaksa menjadi seperti mereka.
Untuk ambu

Dalam rindu

Re