Against the Sun ⌚

Ber

Berla

Berlawa

Berlawanan

****

Terhimpit. Denyut nadi seakan berhenti berdetak. Entah perjalanan ini sudah sampai level ke berapa. Ya, sepertinya Aku merasa sudah sering melawan “Raja”.

Sesaat tenang…

Namun, badai datang dengan mudah menggoncang. Asaku seakan runtuh, karena telingaku terlalu berfungsi baik tanpa menyaring.

***

Mencoba tidak mendengarkan kata orang lain. Namun, pasti ada hal yang harus mempertimbangkan saran orang lain bahkan terpaksa mengikuti keinginan orang lain. Yap, dengan alasan:

1. Tidak ingin membuatnya bersedih

2. Tidak ingin dimusuhi

3. Tidak ingin berdebat

Dan sebagainya…

***

Peranku, Peranmu, dan Perannya bukannya memang berbeda? Mengapa Kau memaksakan orang lain agar masuk ke dalam ceritamu?

Seorang pendiam kau paksa dengan liar agar menjadi periang dan superaktif? Pembunuhan Karakter!

Apakah Kamu tidak pernah diajarkan sopan santun? Bisakah menghargai sedikit saja karakter seseorang? Seorang pendiam juga tidak mau lahir sebagai seorang pendiam.

***

U

Usi

Usia

Deadline akan tetap menjadi deadline. Ada idealisme yang tidak dapat dipaksakan karena usia.

Ya, bunga yang merekah jika takdirnya harus layu pun akan tetap layu sebagaimana rajin disiram air.

Setidaknya tuntutan itu masih sedikit samar. Ya, silakan bersenang-senang mengatur konsep dan menghabiskan ide dalam imajimu…

Salam realistis dari gadis introvert

-Re-

Mei 2017

Sebuah “Gigitan” Kecil Kehidupan 🌱

Wah saya gak tau tuh. Gak mau tau juga, orangnya gak pernah keluar sih.

Mama malu sama tetangga. Dianggap kurang bersosialisasi.

Ah Kamu kenapa sih gak ada inisiatifnya!

Kamu kenapa sih males banget!

Kamu…

Kamu…

Kamu…

————————

Menerobos kemacetan yang sungguh luar biasa. Ya, hidup di zaman kaya gini rasanya harus punya tingkat kepekaan yang sangat tinggi.

Ya, ngerasa aja kalau manusia saat ini kok malah tambah manja ya? Butuh di sanjung dan diperhatikan? Ya, kadang saya juga seperti itu. Cuma kenapa ekspektasinya sangat besar?

Emang harus ya hidup melulu ikut gaya hidup orang lain? Kenapa sih jarang ada manusia yang coba memahami?

Emangnya jadi orang pendiem salah?

Emangnya jadi orang yang jarang sosialisasi di rumah salah?

Emangnya harus ya tunduk sama orang lain yang bukan keluarga kita?

———————

Siang ini, saya habis kena omelan juga kenapa tidak terketuk untuk mengunjungi makam bapak. Tidak hanya dari keluarga tapi dari tetangga sekitar.

Kenapa ya manusia sibuk mencari kesalahan orang lain?

SUDAHLAH. SAYA ITU MEMANG ANSOS.

Tapi, apa kalian peduli bahkan mengingat bagaimana saya dengan dunia saya sendiri membuat kisah romantis dengan alm. Bapak?

Lagipula jiwa yang sudah pergi bukannya lebih butuh doa? Kenapa kalian amat “ramai” membicarakan tradisi “kunjungan ke makam”. Sementara ada anak yang kau sepelekan sibuk membaca Yasin di kamar. Tanpa disuruh, saya juga akan berkunjung kok.

——————-

Ya, saya memang tidak terlalu mempedulikan sekitar. Menurut saya, kebahagiaan itu bukan karena akrab dengan keluarga atau tetangga.

Saya bahagia bermain dengan orang yang tidak saya kenal.

Saya bahagia berbicara dengan benda mati meskipun dianggap “gila” oleh manusia.

Saya bahagia bermain gadget seharian dan membaca jokes receh di sosmed.

Ayolah… Bahagia itu kita sendiri yang tau. Bahagia setiap manusia takarannya berbeda.

Tetaplah menjadi sinar untuk dirimu sendiri meskipun orang lain menganggapmu hanya sebagai anai berterbangan.

-Catatan Anak Introvert-

Mei 2017