Efek Samping. Ketika Ayah Pergi 😇

Selamat pagi tuan. Hari-hari berlalu semakin cepat sekarang. Manusia juga semakin individualis. Apalagi semenjak perkembangan teknologi yang tak kunjung habisnya. Manusia pintar sekarang sangat banyak loh. Apakah tuan disana baik-baik saja? Aku rasa iya, karena tuan sudah kembali di dekapan-Nya 😇😇

***
Ditinggal seseorang yang kita kenal sangat menyedihkan. Apalagi seseorang yang kita kenal sampai hal mendetail. Tidak hanya kita sayang, tapi kenal bagaimana dia makan, bagaimana dia berjalan, bagaimana dia tidur, bagaimana dia batuk, bagaimana dia menguap, bagaimana dia memakai pakaian, dan lainnya hingga hal paling mendetail.
Mereka menyebutnya orangtua. Menurut saya lebih cocok menyembutnya sebagai “Kawan Tanpa Batas“. Ya, segala aktivitas dilakukan bersama di atap yang sama.

Tidak dapat dipungkiri. Sebesar apapun rasa benci seorang anak terhadap salah satu di antara mereka akan terkalahkan oleh rasa menyesal atau sedih atau kangen ketika salah satu kembali diambil pada-Nya.
Saya adalah anak yang sangat “kontra” dengan ayah saya sendiri. Dengan berbagai alasan, masalah, dan kejadian yang memang hanya dipahami oleh ruang lingkup tertentu. Namun, saya menyadari ketika melihat talkshow Abimana saat promo film “Sabtu Bersama Bapak“.

Abimana: “Setiap peristiwa pasti ada efek sampingnya. Apalagi tentang ditinggal orangtua”

Abimana selama 30 tahun lebih baru menemukan sosok ayahnya karena sebuah film. Untung saja, dia sudah cukup dewasa. Sehingga tidak menampakkan kemarahan dan kekecewaan seperti anak 20 tahunan.

Ya, efek samping. Pasca sebuah peristiwa terjadi, manusia baru bisa menemukan hal positif atau negatif. Sosok ayah memang tidak terlalu bersinar daripada pamor sosok ibu. Dibuktikan oleh beberapa media online, artikel majalah lebih besar membahas kasih sayang atau kejadian dengan objek seorang ibu atau sosok perempuan. Faktanya memang sosok ibu adalah SEGALANYA. Dengan pengorbanan dari melahirkan hingga membesarkan. Namun, sosok ayah juga patut diperhitungkan šŸ˜‰

Menurut persepsi saya:
Ayah saya tidak memiliki harta yang banyak. Beliau tidak punya mobil dan pekerjaannya hanya seorang buruh..

Ayah saya tidak cukup baik dalam berbahasa. Beliau lumayan sering berkata kasar..

Ayah saya tidak cukup rajin dalam keseharian. Beliau lumayan sering tidur berjam jam bahkan kadang lupa jam sholat lalu makan ketika bangun tanpa melakukan hal lain..

Tapi,
Ayah saya cukup dermawan. Saya sering memergokinya untuk membantu sesama. Entah saudara atau orang yang tidak dikenal sebelumnya..

Ayah saya adalah guru yang logis. Teringat ketika saya belajar naik motor. Beliau bilang dengan nada yang tinggi “Kalo mau nyalip, pake feeling. Kalo feeling kita bagus gak akan nabrak. Naik motor kuncinya yakin!”

Ayah saya adalah sosok yang penyayang. Sulit rasanya untuk mengakui itu, namun setidaknya sebelum pergi beliau bilang kepada saya “Papa kasian sama mama. Papa udah gak bisa bantuin cari duit buat mama. Udah gak bisa bangun. Kasian mama sama mba yang jadi cari duit. Papa mau terakhir di pangkuan mama.”

Dan…
Ayah saya sepertinya penangkap isyarat yang baik. Mungkin ini terlalu drama bagi makhluk hidup. Namun, saya percaya alam adalah saksinya 😇
Kamis, 05 November 2015. Ayah saya sudah semakin parah. Kondisinya sudah semakin menyedihkan. Mungkin saya sebagai anak sudah diberi kesiapan oleh Tuhan. Saya tidak mau menyebutnya firasat. Firasat itu menduga, tapi jika kesiapan itu artinya Tuhan sudah memercayai saya.
Berangkat kerja seperti biasa jam 11.45 mengobrol bersama alam di jalan sambil bersepeda motor dengan yakin. Tiba-tiba saya terucap.
Ya Allah, Reni kayanya udah siap kalau Allah mau ambil bapak. InsyaAllah Reni udah siap jadi tulang punggung. Kuliah Reni juga udah selesai kok tinggal wisuda. Reni juga udah siap jaga mama dan adek. Jika Allah mau ambil bapak hari ini atau besok. InsyaAllah Reni siap, tapi Reni mohon jika Allah mengizinkan ambillah bapak di hari baik yaitu Jumat. Terima kasih ya Allah.”

Mungkin alam mendengar perkataan itu. Lalu pas ketika Jumat jam 02.02 tgl. 06 November 2015. Bapak menutup mata untuk selamanya 😧
image

Sampai hari ini saya merasa efek samping positif lebih banyak setelah beliau pergi..
Bukan berarti bahagia karena kepergiaannya. Intinya saya lebih berani dalam menentukan garis hidup, pilihan dan lebih berani untuk mengatakan TIDAK kepada orang lain.
Saya juga lebih berani untuk menjalani hidup dan menyelesaikan masalah hidup.
Dan saya lebih berani melewati makam dan melewati jalanan gelap. Karena saya merasa teman ayah saya banyak sekarang dan pasti orang orang baik 😇😇

Saya percaya Tuhan akan mengambil seseorang yang sangat dekat dengan kita ketika kita sudah SIAP!

Lalu bagaimana untuk nasib seorang anak yang ayah atau ibunya meninggal secara mendadak? Kecelakaan? Serangan jantung? Atau sebab lainnya yang tidak terduga?

Tetap sama. Menurut saya, Tuhan sudah memercayai kalau kita sudah siap untuk ditinggal. Menangis semalaman? 2 malam? 7 malam? 40 malam? Itu mungkin wajar, karena menangis akan membuat hati lega. Tapi ada kok hal lain yang lebih asik untuk bikin hati lega selain nangis ;);)

Trauma? Itu juga wajar. Namun, setiap manusia harus belajar ikhlas untuk ditinggal. Karena itu pilihan Tuhan. Saya juga tidak yakin, ketika nanti sudah waktunya saya ditinggal ibu saya bisa mempertahankan statement ini atau tidak. Saya hanya selalu berharap kadar keimanan saya dapat konsisten dan selalu percaya Qadarullah.

Setiap manusia pasti akan siap ketika ditinggal orang tersayang. Hanya durasi waktu pasca ditinggal yang membedakan kapan seseorang akan benar-benar siap :D:D

Salam dari Anakmu, Bapak Yusuf

-Renita Yulistiana 13072016-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s