Make My Own Miracle

Percaya manusia. Percaya makhluk hidup yang bernama teman. Percaya makhluk hidup yang bernama orang tua. Percaya makhluk hidup yang bernama saudara. Percaya makhluk hidup yang bernama guru, dosen, dsb.

Namun… seakan beku. I don’t think so but mereka kadang membuat saya berpikir oh ya ya.
Deep deep from my heart. I’m sad cause them. Ketulusan adalah ketulusan. Pihak pertama mungkin terlalu berharap balas budi. Entah sampai kapan harus nyaman menjadi seperti ini.

Don’t have money. Do YOU feel it? But I have god and I still alive. Remaja yang menghabiskan penghasilan untuk membeli sebuah barang branded atau gadget impian jaman sekarang. No, I don’t. It’s just a dream.

Segitu istimewakah generalisasi? I think this is silly life. Bekerja tidak selamanya sejahtera. Bekerja bukan berarti sudi dijadikan sapi perah. Mengapa kesengsaraan kadang sulit diterima? Namun, orang lain SAH mengeluh pada pihak pertama? Teman, orang tua, bahkan saudara selalu tidak percaya jika pihak pertama “tidak dalam kondisi baik”. Disanggah bahkan dibantah oleh kisah mereka yang harus pihak pertama “iyakan” bahwa kisah mereka lebih tragis.

Tidak butuh uang sebagai penolong. Hanya butuh telinga dan hati nurani bahwa pihak pertama punya hak untuk “tidak baik baik saja”

Sepertinya memercayai kalian terlalu cepat. Sekarang, besok, selamanya tetap berbeda. Hanya setengah hati. Mematahkan kepercayaan pihak pertama dengan cara yang sinis. I’m sorry god but I feel bad this time 😐

-bricks (nolabel)-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s