Ada Doa dalam Lirih

Ketika menutup mata tidak semudah biasanya. Ketika lekuk tubuh tak selincah biasanya. Ketika tulang lidah kaku untuk mendefinisi sebuah kata. Ketika semua adalah ketika hanya dapat diam dalam tanya…

SUNYI… hanya gemericik air membuat kegaduhan. Kini dan dulu amat berbeda. Kini dan dulu tak lagi sama. Kini dan dulu berubah tak lagi level satu.

Hidup. Setiap orang punya hidup masing-masing. Ini hidupku, hidup tokoh aku dalam sebuah cerita. Tokoh yang sudah mulai muak dengan bagian hidup yang harus dilalui dan segala kesemrawutan di dalamnya.

***

Apa ada orang yang tulus menemani?
Apa ada orang yang tulus membantu?
Apa ada orang yang tulus memberi?
Apa ada orang yang tulus bersimpatik?
Kurasa tidak! Semua orang di dunia ini terdapat sosok iblis di dalamnya. Termasuk aku… ya, Aku!!

Haruskah kepercayaan rusak karena sesuatu yang orang lain buat?

Haruskah dipisahkan oleh kesalahan yang tidak kuperbuat?

Haruskah Aku menanggung semua kemarahan pihak lain?

Apa ada hal pengganti selain dijauhi untuk menebus kesalahan yang tidak sepenuhnya kuperbuat?

Segitu lemahnyakah memori dan hati orang-orang untuk mengenang kejadian indah?

Tak sudikah kalian melihat Aku sekarang?

Sebagian orang bilang sakit hati dengan perkataan dan perbuatanku…
Sebagian orang bilang pribadiku salah…
Sebagian orang bilang Aku adalah penyebab dan tidak dapat diandalkan…
Sebagian orang bilang Aku tidak becus mengatur hidupku…

Tidak mengapa!! Itu penilaian kalian!!

Terasing…
Seperti karya Zainudin dalam film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, terasing lebih mirip dengan (teroesir) ejaan lama yang lebih sering dibaca terusir. Muak, marah, entah harus bagaimana, hanya dapat pasrah dalam doa. Semua terjadi setengah hati. Ya, mulai hari itu…
Sulit rasanya lidah untuk berucap, kuberanikan diri untuk mengetik kata demi kata. Mungkin itu salah tapi bagiku benar. Sulit memang menyamakan pola pikir kepada seseorang. Terlebih berbeda kedudukan “antara korban dan pelaku”.

Sudah terlalu lama berada dalam situasi seperti ini. Diasingkan tanpa sebab yang jelas. Pernahkah kalian mengonfirmasi keberadaanku? Pernahkah kalian peduli akan keadaanku? Pernahkah kalian menjemputku ketika sedang terpuruk? Pernahkah kalian menyapaku ketika lama tak ada kabar? EKSPEKTASIKU TERLALU BESAR! Ya, memang… pantas saja aku sering terjatuh dalam mimpi.

Tidak menuntut balas budi. Apakah benar pribahasa “nila setitik rusak susu sebelanga”
Akhirnya aku menemukan jawabannya. Aku memang bukan seseorang yang kaya harta. Aku tidak punya koleksi barang branded sebanyak kalian. Aku juga belum mampu selalu membeli makanan atau pergi ke tempat mewah. Hidupku penuh dengan jerih payah dan kerja keras, bukan seseorang yang dapat meminta dengan orang tua atau bahkan berpenghasilan UMR seperti kalian. Namun, bukan berarti seleraku kurang baik.


Aku juga memang bukan sebuah prioritas. Aku memang hanya kaum terbuang yang dipaksa masuk oleh kelompok kalian. Namun, aku masih punya perasaan yang tak semudah itu kalian patahkan hanya dengan kata “sibuk”. Aku hanya berusaha memperhatikan kalian dengan caraku. Aku hanya menyambung tali silaturahmi dengan kalian. Sulit sepertinya bagi kalian memaafkan. Hanya dapat menelaah dalam sebuah kenangan.

TAPI APA KALIAN PERNAH TANYA KEPADAKU? BERAPA KALI AKU SAKIT HATI ATAS PERKATAAN DAN PERBUATAN KALIAN?!!

*) Pengkhiatan pertemanan dalam percintaan.
*) Penilaian negatif karena terlalu dekat dengan dosen walaupun membela kepentingan bersama.
*) Tingkah lakuku yang selalu kalian anggap pencitraan.
*) Cemburu buta yang tak ada habisnya.
*) Kelihaian teman menutup kejujuran dalam kebohongan yang membuat sakit hati.
*) Bentakan, cacian, sindiran dalam dunia maya dan nyata yang sesungguhnya tidak sepenuhnya salahku.

Lalu, apalagi? Kalian mau apalagi? Aku selalu dipaksa agar mengikuti pola pikir dan keinginan hati kalian.
Kita semua manusia. Apa salah jika Aku menuntut hak sebagai manusia?

**Aku memang sulit bicara dan mengungkapkan. Aku lebih suka menulis. Sesungguhnya itu lebih baik, daripada tidak mengungkapkan sama sekali.

Aku tetap menilai kalian sebagai saudaraku. Aku menenangkan diriku dan terus berdewasa bahwa semua tidakan dan sikap seseorang terjadi karena sebuah alasan. Aku hanya dapat menulis bukan untuk mencari simpatik. Aku hanya kaum apatis menunggu kalian menuju garis. Aku hanya dapat diam, berdoa dalam lirih dan berikrar dalam janji pada diriku sendiri. Aku tidak masalah sendiri karena aku senang kalian bersama. Aku hanyalah aku, seorang introvert yang tidak mampu meluapkan amarah. Aku hanyalah aku seorang blogger yang hanya mampu curhat di dunia maya. Aku hanyalah aku yang menunggu toga bertengger di tubuhku. Aku hanyalah aku yang belajar beradaptasi menerima semua takdir-Mu

Jagalah Aku. Jagalah Kami ya Allah. Hanya kepada-Mu aku mampu berharap. Berharap tanpa takut merasa gagal. Berharap tanpa takut merasa dipatahkan. Berharap tanpa takut kekecewaan.

Oh taman Pleomus, sepertinya lampumu mulai redup (kembali) :”)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s