Hidup. Kualitatif atau Kuantitatif (?)

Hidup merupakan nyawa. Hidup merupakan kesempatan. Hidup merupakan anugerah. Hidup merupakan rahmat. Tapi mengapa hidup ini sulit tanpa menjauhkan paradigma ‘keterpaksaan’…

Manusia bebas menilai dengan buas. Mungkinkah kodrat manusia seperti itu?
Kejelekan dibabat habis jika ada kecewa yang tercipta. Segitu mudahkah melupakan banyak kebaikan seseorang hanya karena sebuah kekecewaan?

Saya belajar banyak akan hal ini. Mengalami masa kritis. Seperti bumi yang tak lagi biru. Mengalami keabsurd-an luar biasa. Mengalami keterpurukan teramat sangat. Butuh waktu sangat lama untuk menerima semua. Bahkan hingga sekarang, sulit rasanya menjadikan bumi kembali ‘biru’.

Kekecewaan dari banyak pihak. Ya, saya sadar semua salah. Hanya porsi saya lebih sedikit. Saat kebencian menjadi tuan di hati dan jiwa. Saat saya mencari kesalahan orang lain tanpa introspeksi. Saat semua dengan mudah dirusak oleh MEREKA! Saat itu saya bertanya, apa salah saya? Terlalu seringkah saya membuat MEREKA kecewa? Saya bagai tupai bodoh yang selalu berakting tak ada apa-apa.

Sekarang…
Pembelajaran itu nyata. Tak akan ada yang peduli meski bumi sedang mengalami masa kritis. Terus-terusan merana? Menunggu belas kasihan dan kepedulian orang yang sebenarnya menusuk dari belakang? Mengemis perhatian teman yang lebih nyaman dengan teman barunya? Semua berkaitan. Ini sungguh beraaaaaaaatttttt :’)

Mungkin hanya daun, kuburan, langit, dan Allah yang sepenuhnya mengerti. Saya hanya percaya bahwa semua manusia pada dasarnya baik. Suatu saat mereka akan ‘pulang’. Entah pulang kepada-Nya atau kejalan-Nya.
Hidup ini terlalu singkat jika dihabiskan untuk membenci orang lain. Saya memang membenci MEREKA, tapi kebaikan MEREKA lebih patut untuk diingat.

Tidak adil rasanya mengingat satu kesalahan manusia tetapi melupakan puluhan bahkan jutaan kebaikan mereka.

Sapaan MEREKA adalah kebaikan buat saya karena itu tanda saya dianggap ada.

Hidup ini adalah cara memaknai. Saya sering menyalahkan keadaan. Bahkan hingga kini. Jadikan hidup sebagai penelitian menurut saya adalah paling pas.
Kuantitatif. Ya penelitian kuantitatif.

Judul: Pengaruh x Terhadap y dalam Kehidupan.

Jika hasil (-) tidak akan ada SAKIT HATI, KECEWA, SEDIH, DSB. Itu hanya membuktikan bahwa x tidak berpengaruh terhadap y.
Jika hasil (+) sesuai ekspektasi tidak ada SENANG, GEMBIRA, DSB. Itu hanya membuktikan bahwa x berpengaruh terhadap y.

Landasan Teori: bersumber dari Al-Quran dan hadist.
Pembimbing: Allah SWT.

****Mungkin benar, setiap masalah harus diibaratkan sebagai penelitian. Karena pada dasarnya manusia sulit menerima harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan πŸ™‚

-Bricks 110115-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s