It’s So Crunchy

Menerka alam bawah sadar sangat sulit terealisasi. Teripang. Terumbu karang. Hidup di dalam air yang jernih tanpa hambatan. Lepas dalam lautan tanpa batasan. Hidup bebas lepas tanpa hak yang terampas.

Saya sulit menyamakan paradigma (kalian)…
Hanya bahasa non verbal yang membantu untuk menjelaskan.
Ketika sebuah paham dan pola pikir dipaksa harus sama. Sungguh sulit.

Ini tentang tokoh Aku dalam novel “Untitled” yang entah kapan akan segera dipasarkan di setiap toko buku di Indonesia.
***

Aku… Aku tak terlahir dengan bakat seperti (kalian). Mudah memikat lawan jenis dengan kelebihan yang (kalian) miliki. Aku hanyalah gadis dengan spesifikasi standar bahkan dikatakan biasa jika disandingkan dengan remaja seusiaku.

Dulu, Aku tak seperti ini. Visi dan misiku jelas terarah menuju masa depan dengan prioritas orang tua dan karirku. Mereka adalah oksigen. Alasan Aku bertahan hidup. Namun sejak rasa itu datang, neuronku seakan bercabang dipaksa melawan arus dari track yang sudah kusepakati dengan diriku sendiri.

Kini Aku dihadapkan dengan beberapa pola pikir yang harus ku rangkum. Awalnya Aku mengira ini baru hipotesis. Tapi setelah ku analisis. Populasi dan sampel berkata benar dan cukup mewakili alasanku.
Realita zaman sekarang dapat dikatakan menurun dari segi kualitas. Sering ku temui, memikat lawan jenis dan menjadikan lawan jenis terpikat adalah prestasi yang luar biasa.

Aku… Aku tak punya bakat itu. Mungkin ada sebagian yang telah dianugerahkan memiliki wajah atau badan yang cantik dan baik. Aku pun terlahir dengan kondisi yang baik. Tapi, Aku hanyalah Aku yang menjalankan kewajiban dan kodrat sebagai wanita. Yaitu menunggu! Bukan, bukan Aku yang mengejar, membuka, bahkan menawarkan diri. Aku tak cukup molek untuk itu.

Semakin lama semakin dapat ku simpulkan. Semakin nalar, semakin ku belajar. Aku mungkin belum terlalu baik menyembunyikan dalam senyum. Aku baru sampai pada level menyembunyikan dalam tenang. Usia sekarang memang wajar memikirkan hal itu. Bukan kita yang memilih. Waktulah yang memaksa kita untuk menerima itu semua. Secara otomatis otak kita akan tertuntun untuk memikirkan hal itu. Hanya saja setiap orang beda tingkat kecerdasannya. Ya, cerdas menaruh hal itu dalam urutan dan prioritas yang mana.
***

“HANYA KITA SENDIRI YANG TAU KUE ENAK ITU ADA DIMANA. BEGITU JUGA KENYAMANAN DALAM BERHUBUNGAN. HANYA KITA SENDIRI YANG PAHAM SELERA KITA SEPERTI APA. MENJADI TULI MEMANG SULIT. TAPI SETIDAKNYA KITA CUKUP BERTERIMA KASIH UNTUK MASUKAN ORANG DI LUAR SANA. MEREKA HANYA PEDULI TETAPI PORSINYA BERLEBIHAN. HEHE.”

Pembahasan jodoh ini sepertinya tidak akan berakhir mulai dari usia sekarang. Sekali lagi. Ini alamiah terjadi. Hanya saja kita yang membedakan mau membahas hal ini sebesar apa. Diperlukan kecerdasan yang tinggi untuk memanajemen hati. Menempatkan posisi dan menerima pola pikir lingkungan tanpa protes itu memang sulit. Tapi harus dilakukan. Hidup ini sungguh “Crunchy” renyah, lengket, dan berisik. Begitulah tugas orang lain. Mereka memang sudah ditugaskan mendapat peran “mengganggu” kehidupan orang lain. Begitupula Aku punya hak untuk “mengganggu” mereka. Tetapi sekali lagi harus memperhatikan porsinya :”)

-Bricks 300914-
Renita Yulistiana

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s