L.O.V.E :”)

Sudah sekian hari bahkan bulan bahkan tahun saya menerka-nerka hal ini. Entah sejahat apa diri saya, namun ini yang saya rasakan. Hati ini selalu bertanya-tanya. Karena sesuatu hal yang paling kampret sejagat raya yaitu L.O.V.E

Pelarian? Entahlah. Sungguh sampai saat ini saya hanya dapat menyimpannya dalam hati. Saya takut, saya hanya membisu merasakan ini sendiri. Malu rasanya jika berbagi dengan orang lain. Bahkan dengan tokoh utama. Itu alasan saya belum dapat yakin seutuhnya. Saya bukan pribadi yang menyepelekan bahkan tak menghargai perasaan orang lain. Sungguh, saya ingin menjalin hubungan yang serius.

  • Apa dia, teman saya, dan mereka pernah tau betapa khawatirnya saya ketika dia maju untuk presentasi kelompok atau dalam perkuliahan sehari-hari?

Saya selalu memperhatikan, matanya belum dapat seutuhnya lepas untuk memandang kecantikannya. Ya, sosok itu seperti bidadari. Fisiknya bagus, kulitnya putih, menutup aurat, memiliki kecerdasan yang sangat luar biasa. Bahkan dapat dikatakan sosoknya sangat sempurna sebagai wanita. Oleh karena itu, saya lebih sering memilih menunduk bahkan tidak melihatnya sama sekali. Saya hanya ingin dia merasakan pemandangan yang indah. Wanita yang pernah dia cintai sepenuh hati walaupun akhirnya dia menyerah.

 

  • Apa dia, teman saya, dan mereka pernah tau betapa rasa kepedulian saya terhadapnya sangatlah penuh?

Ya memang, saya mungkin bodoh. Tetapi saya hanya ingin membuatnya bahagia dengan orang yang pernah ia cintai sepenuh hati. Orang yang selalu diceritakan kepada saya. Orang yang diharapkan menjadi pelabuhan terakhirnya. Orang yang selalu dipuja kecantikan dan segalanya. Saya hanya ingin meyakinkan hatinya kembali, apakah sudah sangat yakin untuk menyerah?

Orang yang selalu menjadi penyemangatnya kala itu. Orang yang selalu sempurna di matanya. Orang yang selalu ada di pikirannya kala itu. Sedangkan saya, saya hanyalah seorang wanita ala kadarnya yang tidak dapat disandingkan dengan orang-orang (wanita) yang pernah dicintai atau mencintainya. Saya tidak pernah merasa marah atas apa yang dia lakukan.

Bahkan ketika saya menyiapkan sebuah kejutan kecil, memberikan kue tiramisu dan sebuah kado untuknya digagalkan secara tidak sengaja. Bukan salahnya, ini hanya salah keadaan yang saya paksakan. Sungguh, tak ada rasa marah sedikitpun. Saya memang sering diam bahkan menghilang tak memberi kabar. Itu bukan berarti saya marah, ngambek bahkan kecewa. Tetapi justru saya introspeksi diri sendiri, mungkin saya memang yang salah atau tak memahaminya.

Ketika dia membuat janji mengantar atau menjemput saya, lalu tiba tiba dia membatalkan karena suatu hal. Saya selalu memahami keadaannya. Mungkin jarak yang membuat dia lelah. Atau keadaan yang memang tidak memungkinkannya untuk beranjak. Saya selalu ingin menjadi pasangan yang dapat memahaminya. Tetapi lebih sering terjadi kesalahpahaman. Saya mohon maaaf atas semuanya. Mungkin saya kurang pantas untuk dibanggakaan dari orang sebelum, yang pernah mencintai atau dicintai olehnya. Saya sangat bersedia jika harus sakit hati jika saya telah melabuhkan hati saya kepadanya tetapi dia kembali berjuang untuk sosok yang didambakannya. Daripada saya harus riang menjalani hubungan ini, tetapi hati dia yang terluka.

 

  • Apa dia, teman saya, dan mereka tau betapa rasa yang sangat sulit saya jelaskan?

Saya sangat menikmati hubungan ini. Bahkan sampai hari ini, saya selalu khawatir jika ia tidak memberi kabar. Saya selalu khawatir jika dia menghisap asap rokok terlalu banyak, karena takut napasnya kembali terganggu. Saya selalu khawatir dengan kehidupannya yang sekarang belum bekerja kembali. Saya selalu berusaha memberi semangat dengan cara saya. Mungkin bukan dengan cara yang halus. Tetapi sungguh saya lakukan itu dari dalam hati yang paling tulus.

 

  • Apa dia, teman saya, dan mereka tau bagaimana posisi saya dalam hubungan ini?

Saya selalu berdoa setiap hari. Jika ini memang takdir yang terbaik, saya mohon dekatkanlah. Tetapi jika bukan, saya mohon jauhkanlah dengan caraMU. Saya selalu berpikir bagaimana menjadi berguna dimatanya? Bagaimana saya dapat dianggap olehnya dengan segala kekurangan saya? Bagaimana cara saya memberikan semangat hidup untuknya?

 

Saya selalu berdoa, ya Allah tolong jadikan saya sosok yang berperan dalam merubah hidupnya. Memberi semangat untuknya, demi masa depannya . Jikalau nantinya dia bukan takdir saya yang terakhir. Tolong berikan saya kesempatan untuk melihat dirinya berhasil. Saya mohon, jadikan saya saksi hidup melihat ia mendapat pekerjaan yang layak dan mapan untuk keluarganya kelak. Izinkan saya melihatnya memakai toga pada saat wisuda.

Saya juga mohon, tolong berikan dia sosok yang baik seperti dirinya. Selalu setia menemani dan menyayanginya hingga akhir hayat. Berikanlah dia sosok yang dapat membahagiakan dirinya setiap saat sehingga dapat tersenyum setiap harinya. Berikanlah dia kebahagiaan dalam merangkul masa depannya dengan orang yang menjadi takdirnya. Aamiinn :”)

 

-Renita Yulistiana-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s