Keresahan Seperempat Abad

Ya ampun umur udah segini, tapi kok masih gini-gini aja? Iya, gak melulu soal masalah “kapan nikah?” ya. Banyak banget keresahan yang muncul di usia seperempat abad ini. Yang tadinya santai buat gak dipikirin. Sekarang bisa jadi kaya semacam harus dipikirin. “Ya,  itumah kamu aja kali yang repot nambah pikiran. Hidup tuh ngalir aja kali.”– Iya oke, tapi kayanya sengalir-ngalirnya orang mereka juga pasti punya harapan atau target pencapaian lah untuk hidupnya. Ya analoginya kaya senakal-nakalnya orang, pasti mau kan punya pasangan hidup yang baik?

Sumber Gambar: hipwee.com

  • Kerjaan

Bukannya gak bersyukur. Tapi kadang pencapaian teman itu bikin banyak mikir. Banyak teman yang sudah berhasil ke luar negeri, jadi jurnalis, kerja di perusahaan bonafit, ngajar di sekolah unggulan. Sementara kayanya Aku tuh masih disini sini aja. Dalam artian, “Kok kayanya hidup gua gak ada tantangannya ya? Kerjaannya gini gini aja.” — Ya, kaya gak ada seninya. Padahal kan waktu yang dikasih Tuhan sama durasinya. Terus kenapa gak dimanfaatkan dengan baik kaya mereka? Ya emang sih, kadang ada beberapa “sihir” tak kasat mata yang bisa mengubah nasib seseorang. Cuma diluar itu kan setidaknya kita punya jatah hidup yang sama. Terus kenapa dia bisa berhasil dan Aku teh belum? Continue reading

Advertisements

Kenapa Harus Berpasangan. Jika Sendiri Saja Punya Peran.

Dialog harian yang tak ada habisnya. Menyempil tema yang memang menjadi takdir roda kehidupan. Tercetus tanya ketika mengobrol dengan mereka.

“Kenapa sih harus berdua, kalo sendiri aja tuh kita bisa?”

Bisa ditebak, mereka umumnya bereaksi:

“gila lu ya”

“emang lu gak mau bahagiain ortu”

“emang lu mau cari duit sendiri terus”

***

Gini loh, kayanya gak cuma saya yang berpikir dan penasaran kaya gini deh. Di zaman instan kaya sekarang dan sifat individualisme yang semakin dijiwai manusia. Rasanya, selentingan pikiran “kenapa harus berdua” 30% jadi topik obrolan.

***

Ya gimana ya sampai sekarang tuh belum ada jawaban yang keren aja sih untuk hal ini. Mereka tuh pasti jawabnya:
Nikah itu kan ibadah

Ini paling sering banget pokonya. Gini ya, kadang Aku teh suka geregetan kalo lagi ajak diskusi terus dijawab pakai agama. Itu mah udah pasti kelar. Aku teh tau banget, nikah itu memang sunah rasul. Cuma kan bukan itu konteks yang Aku cari, tapi pertanyaan kenapanya? 😂

Kan enak kalau berdua bisa berbagi beban

Oke. Berbagi beban? Rasanya ketika sendiripun kita bisa kok selesain masalah kita sendiri. Toh, kita pasti lebih tau kan gimana caranya bahagiain sendiri. Entah dengerin musik, belanja sesuatu, dll.

Kan enak bisa dianter jemput 

Anter jemput ya? Hmm rasanya transportasi online sudah semakin marak. Malahan gak akan menimbulkan ambek ambekan jika nantinya si pasangan “jemput telat”. Gak mungkin kan kalian berantem sama abang ojek online? 😂

Perlu lah, kan bisa dapat uang bulanan

Memang sih, ini mungkin jawaban yang paling realistis. Manusia gak akan selamanya bisa sendiri. Ya misalnya gak akan selamanya bisa kuat cari uang sendiri.

Cuma, sayangnya banyak juga kisah di sekeliling bahwa pasangan justru membebani keuangan (?) Jadi, ku kembali penasaran “kenapa harus berdua” 😂

***

Paradigma orangtua terkait nikah muda dan perawan tua memang sangat berkesinambungan. Rasanya pusing berkeliaran. Melihat umur sudah di angka yang rawan.

Tapi, rasanya tidak perlu lah menjajakan. Target sih target, tapi kita punya hak untuk konsep kepribadian. Bukan harus pasrah siapa saja yang datang duluan. Realistis itu sangat perlu. Tapi bukan berarti harus terburu buru.

Yang pasti jikalau berdua itu perlu, Saya merasa pasangan ada untuk saling menghargai dan saksi resmi jika kita mati. Terpenting adalah pelengkap dokumen masa depan si buah hati

***

Menulis bisa jadi karena penasaran

Menulis bisa juga karena ke soktauan

Menulis bisa juga untuk menggiring pikiran

Menulis bisa juga untuk menikmati hujan

***

Nikmatilah dulu hidupmu. Jika merasa itu belum perlu. Silakan ukir cerita sesuai seleramu. Jika kau sudah siap, jangan lupa undang Aku 😂

-Re-

Menikah. Penting atau Tidak

Dulu waktu kuliah belajar tentang macam macam paragraf. Ada tuh salah satunya paragraf argumentasi. Menurut wikipedia:

Argumentasi adalah salah satu jenis pengembangan paragraf dalam penulisan yang ditulis dengan tujuan untuk meyakinkan atau membujuk[butuh rujukan] pembaca. Dalam penulisan argumentasi isi dapat berupa penjelasan, pembuktian, alasan, maupun ulasan obyektif dimana disertakan contoh, analogi, dan sebab akibat.

Tujuannya adalah agar pembaca yakin bahwa ide, gagasan, atau pendapat tersebut adalah benar dan terbukti.

📚📚📚

Oke saatnya paragraf argumentasi ini kita modifikasi (tanpa berniat merusak kaidah Bahasa Indonesia). Intinya penulis ingin memengaruhi pembaca tapi si penulis ini gak paham nulis paragraf argumentasi yang baik dan benar itu kaya gimana. Lalu kamu ngapain aja kuliah sastra 4 tahun bruh? 😑😑

📚📚📚

Jadi gini, menikah itu penting atau tidak? Menurut abdi sih tergantung keadaan, jadi penting atau gak pentingnya itu sendiri. Bisa aja tuh bulan Januari kita anggap gak penting, tapi Februari bisa jadi penting 😂😂

Kalau sampai saat ini masih merasa menikah itu gak (terlalu) penting sih. Contohnya gini, manusia pada umumnya sudah biasa beraktivitas sendiri bukan? Justru kehadiran pasangan itu malah membuat kita “ketergantungan”.

💕Biasa naik kendaraan sendiri, punya pasangan berharap disupirin.

💕Biasa makan sendiri, punya pasangan maunya ditemenin makan.

💕Biasa gak ada yang tanya kabar, punya pasangan berharap ada yang tanya kabar.

💕Biasa sakit langsung berobat, punya pasangan harus kode biar dijenguk atau diucapin gws.

Kadang ada hal-hal yang seharusnya simple jadi muter muter. Tapi menikah itu jadi penting salah satunya jika kalian udah ditinggal teman menikah. Dalam artian, misalnya kalian temenan 5 orang. Terus 3 diantaranya udah menikah, tentu saja kekhawatiran itu pasti ada 😂😂

📚📚📚

Pernah juga sih baca pendapat bahwa

Menikah itu justru menimbulkan masalah baru 😂

Gak tau kenapa agak agak setuju juga sih ya. Gimana gak, referensi film, sinetron, kehidupan nyata mendukung banget pendapat itu sih. Ilustrasi yang sering banget menimbulkan masalah sih kurang lebih masalah ini nih:

💕Penentuan mahar, seserahan, tanggal pernikahan, undangan, dekorasi dsb.

💕Perselisihan tinggal sendiri atau dengan mertua

💕Perselisihan lahiran normal atau caesar

💕Perdebatan pekerjaan atau status sosial pasangan

Ya kurang lebih kaya gitu. Jadi, intinya menikah itu belum penting kalau sekarang tapi belum tau kalau sore hari (adaptasi dari kutipan novel Dilan 😂)

Tapi, kalau boleh bersaran. Tetaplah memikirkan menikah itu penting tetapi resepsi tidak penting, karena ada keluarga dan teman yang selalu tulus mendoakan kebahagiaanmu mengenai jodoh.

Sekali lagi, maaf jika modifikasi paragraf argumen ini tidak sesuai kaidah kebahasaan. Sekali lagi juga, tulisan ini adalah pandangan absurd si penulis yang mungkin tingkat kesadarannya masih diragukan.

Selamat pagi menjelang siang

Re 1701

Lima.

Hai lima. Sering dianggap genap padahal ganjil. Sering serius tapi dianggap jail. Lucu ya, makanya jangan usil.

🌼🌼🌼

Hai lima. Terima kasih selalu menggenapkan. Hadirmu memperlengkap bilangan. Bagai bangun datar, kau lingkaran. Sungguh menyenangkan.

🌼🌼🌼

Lima, dia kemana ya? Kamu sih terlalu sering ngelaba. Makanya saling jaga. Kalau sudah hilang gini, mau bagaimana? Simpan rindumu itu, Nana.

🌼🌼🌼

Lima. Ternyata susah juga ya. Konsisten dalam waktu lama. Besok aku perbaiki lagi ya.

Tiga dan Empat.


Tiga dan empat. Kenapa dua? Ya, kemarin tidak sempat. Mataku cepat merapat. Akibat tuntutan lembur yang merekat.

🍃🍃🍃

Tiga dan empat. Hai, apa kabar sobat? Apakah kamu semakin hangat? Atau tambah memikat? Sesungguhnya rindu, sayang jarak kita tak dekat.

🍃🍃🍃

Tiga dan empat. Jadi kapan impian kita merekat? Kamu lebih suka tiga atau empat? Atau lebih suka berpindah tempat?

🍃🍃🍃

Tiga dan empat jika dijumlahkan tujuh. Jika dikurangkan minus satu. Jangan bosan terus berpeluh. Hidup ini memang untuk mengejar sesuatu.

🍃🍃🍃

Tiga dan empat. Tak terasa waktu semakin dekat. Apakah kamu sudah terikat? Atau masih ingin menjelajah ke lain tempat? Menarik rasanya jika nekat. Belum pernah kan rasanya paku tersangkut dalam kain brokat.

🍃🍃🍃

Berhutang karya ternyata lebih menghantui. Mengiris rindu dalam sepi. Sudahlah kau tak akan mengerti. Penulis kalau lagi belagu memang seperti ini 😂

🍃🍃🍃
Re

#30haringeblog

Dua.

Dua lebih banyak dari satu. Lebih baik? Belum tentu. Dalam sebuah lomba, juara dua podiumnya lebih rendah. Tak dapat semprotan air sehingga membuat gerah. Dilirikpun hanya seadanya. Itu juga karena mereka gagal dapat gambar juara pertama.

🍂🍂🍂

Kamu tau kisah anak kembar yang harus dipaksa dipisahkan karena organ mereka ada kelainan? Dua kadang menyakitkan. Dalam kasus ini kami diajarkan. Bagaimana orang hidup harus merelakan dan mempercaya kematian demi sebuah kebahagiaan.

🍂🍂🍂

Namun, kamu tau pertengkaran abadi adik dan kakak dua bersaudara? Ketika ibu lelah mengerem amarah. Ketika suara menggema tak terarah. Dua kadang mengajarkan. Bahwa mengalah adalah cara elegan mencipta perdamaian.

🍂🍂🍂

Dan apakah Kamu tau pergerakan cairan dalam dua lubang hidung? Tarikan simetris antara kanan dan kiri. Menimbang adil tanpa menyakiti. Meski kadang membuat sesak namun Aku sangat menunggu keluarnya dahak. Aku rindu saat bisa terbahak.

🍂🍂🍂
Lalu apakah Kamu sungguh-sungguh tau berapa gram keritingan mie instan dalam bungkus Sarimi isi dua?  Bungkus sederhana, mengeyangkan alam perut dan sekitarnya. Gulungan garpu yang lebih banyak. Dibalut kuah kaldu yang enak. Ah, dua kau memang istimewa tanpa jarak.

Re

#30haringeblog

Satu.

Satu… Aku mengenal sebagai angka. Namun satu bisa menjadi intro cerita. Cerita asa, perjuangan, bahkan cinta. Satu adalah pertama. Pantas saja semua berebut mendapatkannya.
Satu…Kali ini Aku ingin mempresentasikanmu untuk kisah keluarga. Menarik rasanya, penuh intrik bak drama. Cinta kepada keluarga tak boleh ada habisnya. Jika kau lapar, hanya kulkas rumah yang akan menyajikan papaya.

Satu dan keluarga. Bagai liontin nampak lebih indah jika ada permata. Dia sedang sakit. Tenggorokannya sedang rutin menjerit. Katanya sih, terlalu banyak menelan buah yang pait.

Ibu dan adik. Hanya mereka yang membuatku lebih baik. Ketika Aku salah membidik. Merekalah yang menyadarkanku agar lebih apik.

Usahaku membuat mereka bahagia belum sebanding. Rasanya piring ingin ku banting. Habis, mereka selalu bergeming. Perubahanku tak membuat pangling.

Satu dan diksi. Ah sudahlah, biasa menulis puisi sok sekali coba narasi. Dasar kamu tidak tau diri. Tapi tak apa latihan akan menjadi bukti. Bahwa menulis adalah cara sederhana menghibur diri.

🌼🌼🌼

Mengadaptasi program #30haribercerita. Aku akan mencoba dalam media lainnya. Semoga terus tertata. Hingga tanggal deadlinenya.

Re

#30haringeblog