Lima.

Hai lima. Sering dianggap genap padahal ganjil. Sering serius tapi dianggap jail. Lucu ya, makanya jangan usil.

🌼🌼🌼

Hai lima. Terima kasih selalu menggenapkan. Hadirmu memperlengkap bilangan. Bagai bangun datar, kau lingkaran. Sungguh menyenangkan.

🌼🌼🌼

Lima, dia kemana ya? Kamu sih terlalu sering ngelaba. Makanya saling jaga. Kalau sudah hilang gini, mau bagaimana? Simpan rindumu itu, Nana.

🌼🌼🌼

Lima. Ternyata susah juga ya. Konsisten dalam waktu lama. Besok aku perbaiki lagi ya.

Advertisements

Tiga dan Empat.


Tiga dan empat. Kenapa dua? Ya, kemarin tidak sempat. Mataku cepat merapat. Akibat tuntutan lembur yang merekat.

🍃🍃🍃

Tiga dan empat. Hai, apa kabar sobat? Apakah kamu semakin hangat? Atau tambah memikat? Sesungguhnya rindu, sayang jarak kita tak dekat.

🍃🍃🍃

Tiga dan empat. Jadi kapan impian kita merekat? Kamu lebih suka tiga atau empat? Atau lebih suka berpindah tempat?

🍃🍃🍃

Tiga dan empat jika dijumlahkan tujuh. Jika dikurangkan minus satu. Jangan bosan terus berpeluh. Hidup ini memang untuk mengejar sesuatu.

🍃🍃🍃

Tiga dan empat. Tak terasa waktu semakin dekat. Apakah kamu sudah terikat? Atau masih ingin menjelajah ke lain tempat? Menarik rasanya jika nekat. Belum pernah kan rasanya paku tersangkut dalam kain brokat.

🍃🍃🍃

Berhutang karya ternyata lebih menghantui. Mengiris rindu dalam sepi. Sudahlah kau tak akan mengerti. Penulis kalau lagi belagu memang seperti ini 😂

🍃🍃🍃
Re

#30haringeblog

Dua.

Dua lebih banyak dari satu. Lebih baik? Belum tentu. Dalam sebuah lomba, juara dua podiumnya lebih rendah. Tak dapat semprotan air sehingga membuat gerah. Dilirikpun hanya seadanya. Itu juga karena mereka gagal dapat gambar juara pertama.

🍂🍂🍂

Kamu tau kisah anak kembar yang harus dipaksa dipisahkan karena organ mereka ada kelainan? Dua kadang menyakitkan. Dalam kasus ini kami diajarkan. Bagaimana orang hidup harus merelakan dan mempercaya kematian demi sebuah kebahagiaan.

🍂🍂🍂

Namun, kamu tau pertengkaran abadi adik dan kakak dua bersaudara? Ketika ibu lelah mengerem amarah. Ketika suara menggema tak terarah. Dua kadang mengajarkan. Bahwa mengalah adalah cara elegan mencipta perdamaian.

🍂🍂🍂

Dan apakah Kamu tau pergerakan cairan dalam dua lubang hidung? Tarikan simetris antara kanan dan kiri. Menimbang adil tanpa menyakiti. Meski kadang membuat sesak namun Aku sangat menunggu keluarnya dahak. Aku rindu saat bisa terbahak.

🍂🍂🍂
Lalu apakah Kamu sungguh-sungguh tau berapa gram keritingan mie instan dalam bungkus Sarimi isi dua?  Bungkus sederhana, mengeyangkan alam perut dan sekitarnya. Gulungan garpu yang lebih banyak. Dibalut kuah kaldu yang enak. Ah, dua kau memang istimewa tanpa jarak.

Re

#30haringeblog

Satu.

Satu… Aku mengenal sebagai angka. Namun satu bisa menjadi intro cerita. Cerita asa, perjuangan, bahkan cinta. Satu adalah pertama. Pantas saja semua berebut mendapatkannya.
Satu…Kali ini Aku ingin mempresentasikanmu untuk kisah keluarga. Menarik rasanya, penuh intrik bak drama. Cinta kepada keluarga tak boleh ada habisnya. Jika kau lapar, hanya kulkas rumah yang akan menyajikan papaya.

Satu dan keluarga. Bagai liontin nampak lebih indah jika ada permata. Dia sedang sakit. Tenggorokannya sedang rutin menjerit. Katanya sih, terlalu banyak menelan buah yang pait.

Ibu dan adik. Hanya mereka yang membuatku lebih baik. Ketika Aku salah membidik. Merekalah yang menyadarkanku agar lebih apik.

Usahaku membuat mereka bahagia belum sebanding. Rasanya piring ingin ku banting. Habis, mereka selalu bergeming. Perubahanku tak membuat pangling.

Satu dan diksi. Ah sudahlah, biasa menulis puisi sok sekali coba narasi. Dasar kamu tidak tau diri. Tapi tak apa latihan akan menjadi bukti. Bahwa menulis adalah cara sederhana menghibur diri.

🌼🌼🌼

Mengadaptasi program #30haribercerita. Aku akan mencoba dalam media lainnya. Semoga terus tertata. Hingga tanggal deadlinenya.

Re

#30haringeblog

Hari Tiga Huruf

Selamat pagi. Sudah lama tak menulis narasi. Rasanya jari kaku lagi. Berhentilah dengan rimamu, ini bukan puisi. 

Hae ambu, apa kabar? Baik lah ya pasti, kan kita serumah. Semakin hari kamu juga semakin montok dan sumringah.

Kata dunia hari ini adalah hari ibu. Kataku ini hari Jumat yang membelenggu. Sejak tadi pagi wa-mu seakan menjadi kode buatku. Agar aku mengucapkan “Selamat hari ibu” kepadamu. Sungguh malang nasibmu ambu. Aku bukan anak yang seromantis itu.

Katanya hari ibu itu setiap hari. Bukan hanya hari ini. Katanya juga hari ibu itu setiap hari. Dalam doa sujud sholat sehari-hari. Namun kataku hari ibu adalah bagai palung tanpa besi.

Sudah berkali-kali hari ibu diadakan. Namun prestasiku belum ada yang bisa dibanggakan. Definisi sukses ibu belum bisa kukabulkan. Materi belum berhasil aku cukupkan. Kehadiran semakin hari semakin aku kurangkan. Namun kamu masih setia bertahan. Menjaga anak yang sulit untuk diarahkan.

Aku tau mimpimu seperti ibu pada umumnya. Namun, tabahlah anakmu berakal tak seperti biasanya. Ketika materi menjadi ajang bergengsi. Ketika status pasangan menjadi penentuan harga diri. Ketika karir menjadi takaran penentu status ekonomi.

Aku tau bebanmu dihadapannya, hadapan mereka. Memiliki anak perempuan satu-satunya. Namun, ekspektasimu terlalu menyala. Sedangkan otakku kadang tak berirama. “Tak punya pikiran” otakku dilabeli mereka.

Baginya aku seolah tak memikirkan. Siapa bilang? Justru kadang aku terbeban. Namun, buat apa dikeluhkan. Toh aku bicara akan dianggap sebagai bualan.

Adat istiadat. Penentu stigma masyarakat. Mengekang manusia untuk bernikmat. Memenjara pikiran hingga ke lahat. Adat istiadat. Ada juga yang membuat nikmat. Menggabung norma dan agama semakin dekat. Menyusun manusia hingga rapi memikat.

Aku paham membuatmu bahagia. Tapi sayang persepsi kita berbeda. Aku selalu gagal membahagiakanmu sesungguhnya. Namun, aku selalu berdoa. Bolehkah aku berkelana setahun saja? Atau bolehkah aku menghabiskan uang untuk mencari ilmu lagi di kota berbeda? 😂😂

Ambu. Tetaplah menaruh harap padaku. Jangan berhenti mendoakanku. Begitupun aku mendoakanmu. Polaku mungkin aneh dimatamu. Tak memberimu cerita cinta. Tak memberimu cerita masalah kerja.Tak memberimu cerita jika gundah gulana. Bahkan tak memberimu “pundi” sebanyak anak mereka. Diamku seribu bahasa akan lebih membuatmu bahagia. Daripada aku harus memaksa menjadi seperti mereka.
Untuk ambu

Dalam rindu

Re

Do it ’til your fingers’ bleeding 🍂

Harusnya kamu sadar

Tidak ada yang bertahan selamanya

Sekeras apapun usahamu

Sekeras apapun doamu

🚀🚀🚀🚀🚀

Harusnya kamu sadar

Penindasan itu tidak baik

Ancaman itu sangat mengganggu

Meski kuatnya posisimu

🚀🚀🚀🚀🚀

Harusnya kamu sadar

Totalitas akan membawa kualitas

Kebaikan akan membawa kedamaian

Mengocehlah sepuasmu

🚀🚀🚀🚀🚀

Harusnya kamu sadar

Pilihan katamu sangat menyakitkan

Nada tinggimu terlalu sering berkumandang

Amarahmu selalu menghasilkan air mata

🚀🚀🚀🚀🚀

Harusnya kamu sadar

Ada orang yang selalu berdoa dibelakangmu

Mendoakanmu agar bisa selembut salju

Mendoakanmu agar lebih menghargai proses dibanding hasil

Mendoakanmu agar lebih baik dan sejahtera

🚀🚀🚀🚀🚀

Harusnya kamu sadar

Mereka tidak akan selamanya disini

Mereka bisa saja pergi

Untuk mengejar mimpi yang kau batasi

Untuk mencari ruang yang tidak kau halangi

I am not afraid to keep on living

I am not afraid to walk this world alone

Re

171017

Tujuan Hidup (?)

Sudah lama tidak menulis. Sudah lama tidak berimajinasi. Sudah lama tidak “mampir” ke makam dan fly over. Sudah lama tidak menyapa pohon, langit, dan daun.

Hai daun, tujuan hidup itu sebenarnya untuk apa sih? Harus memprioritaskan siapa sih? Hidup itu untuk mengendalikan, mencapai, atau dikendalikan? 😂😂

Idealis di zaman sekarang sepertinya banyak menimbulkan pro dan kontra ya. Apalagi jika itu adalah sebuah topik yang “sensitif” untuk di bahas. Bertemu banyak orang dari berbagai kalangan, memberi pelajaran bahwa memilih topik pembicaraan itu memang penting 😉

Hai daun, sebetulnya “omongan orang” itu siapa yang menciptakan sih? Sepertinya lebih bahaya dari hama ataupun gulma 😂😂

Betul sih tergantung pribadi masing-masing orang. Ada yang menghiraukan, ada pula yang tidak menghiraukan.
Hai daun, sebenarnya bosan sih mengangkat topik percintaan dan pernikahan… tapi sepertinya asik juga mencari referensi dari berbagai tipe manusia.

Mendengar pandangan mereka dan sebagian besar dari mereka masih menganggap bahwa pernikahan adalah jalan pintas mereka menyelesaikan masalah hidup. Seperti keuangan, beban pekerjaan, dan masalah gengsi 😂😂

Hai daun, sepertinya sekarang menikah itu adalah cita-cita yang sedang naik pamor loh. Bahkan orang lebih banyak bergumam tentang pernikahan daripada bergumam caranya masuk fakultas Kedokteran 😂😂
Tapi betul juga sih, memang manusia itu butuh pasangan. Ya, suami atau istri itu kan teman hidup yang akan berdampingan selamanya. Jadi setidaknya visi dan misi hidup bisa dilalui bersama. Contoh gampangnya sih ketika capek kerja, tinggal cerita aja sama pasangan. Selain dikasih solusi, akan ada ketenangan juga disitu.



Hai daun, tapi kan gak harus ya diburu buru gitu? Gak harus kan ya dikasih deadline gitu? Si A udah nikah loh kamu kapan? Si B udah punya anak loh kamu kapan? 😂😂

Kenapa ya sekarang tuh banyak orang jail (eh dari dulu deh), apalagi keluarga besar. Lagian kan kalau nikah buru-buru pasti ngerepotin mereka. Mereka jadi bolak bailk ke rumah ngurus acara, keluar bensin, capek nyetir kendaraan, terus nanti bobonya jadi kurang, besoknya izin kerja, dipecat deh wkwk 😂😂
Tapi, ya pasti menurut mereka baik. Memang ini adalah fase yang sudah tidak bisa dihindari. Secerdas apapun sembunyi, setinggi apapun gelar yang kamu cari, sebesar apapun gaji yang kau dapati, sebanyak apapun investasi yang kau punyai, fase ini akan terus menghantui 😂😂

Hai daun, jika kau mendengar. Tolong sapa Aku dengan wangimu. Seperti wangi setelah kau disapa embun pagi hari 🍀🍀

Re

141017